Berita
Dirjen Buddha Apresiasi Peran KCBI Majukan Sumber Daya Manusia Buddhis Melalui Certified Communicator Dhammaduta
Tuesday, 17 March 2026 12:00
Keluarga Cendekiawan Buddhis Indonesia (KCBI) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Buddhis melalui penyelenggaraan program “Certified Communicator Dhammaduta (CCD)”. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 17 Maret 2026 secara daring melalui platform Zoom dan diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari rohaniwan, guru agama Buddha, hingga pengurus organisasi keagamaan.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, Drs. Supriyadi, M.Pd., memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai bahwa program CCD merupakan langkah strategis dalam membangun kualitas umat Buddha, khususnya dalam aspek komunikasi keagamaan. “Kegiatan ini sangat baik dalam mencetak Dhammaduta yang tidak hanya memahami ajaran, tetapi juga mampu menyampaikannya secara efektif, relevan, dan membumi di tengah masyarakat,” ujarnya.
Pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta dengan kemampuan komunikasi yang efektif, sistematis, dan berdampak dalam menyampaikan Dhamma. Selain menekankan aspek teknis public speaking, program ini juga mengintegrasikan nilai-nilai ajaran Buddha, sehingga peserta diharapkan mampu menjadi komunikator yang tidak hanya fasih berbicara, tetapi juga memiliki kedalaman pemahaman serta integritas moral yang kuat.
Dalam sesi pemaparannya, Dr. Muljadi, S.Kom., MM., MBA menyampaikan materi mengenai Public Speaking Transformasional & Hypno Communications, termasuk grooming serta teknik berbicara bagi penceramah Buddha. Ia menekankan pentingnya membangun koneksi dengan audiens. “Seorang Dhammaduta harus mampu menyampaikan pesan Dhamma secara jelas, menyentuh, dan mampu menggerakkan perubahan batin pada pendengarnya,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Ruby Santamoko, S.Ag., M.Pd membawakan materi tentang Pancasila Buddhis serta implementasinya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pemahaman terhadap Kitab Suci Tipitaka. Ia menegaskan bahwa ajaran Buddha harus menjadi pedoman hidup. “Pemahaman terhadap Tipitaka tidak cukup hanya dipelajari, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata sebagai teladan bagi umat,” ungkapnya.
Assoc. Prof. Dr. Limajatini, S.E., M.M., B.K.P., C.T.C., C.M.A. turut menyampaikan materi mengenai Metta dan Karuna dalam pembentukan karakter Dhammaduta, serta hukum Tilakana. Ia menjelaskan bahwa nilai cinta kasih dan welas asih merupakan fondasi utama dalam menyampaikan Dhamma. “Seorang Dhammaduta harus mampu mempraktikkan Metta dan Karuna dalam kehidupan sehari-hari, serta memahami hakikat kehidupan melalui Tilakana,” jelasnya.
Adapun Ir. Hilman Rama Pratama, S.Ud., S.Tr.Kes., M.Pd. menyampaikan materi terkait etika, integritas moral, serta motivasi seorang penceramah. Ia menekankan pentingnya menjaga ketulusan dan moralitas dalam berdharma.
“Integritas adalah kunci utama. Dengan moral yang kuat, pesan Dhamma akan lebih mudah diterima dan memberikan dampak nyata bagi umat,” tuturnya.
Dalam pemaparannya, beliau juga memberikan ilustrasi menarik agar konsep ini lebih mudah dipahami. Ia mengibaratkan seorang penceramah seperti sebuah lokomotif yang berjalan di atas rel kehidupan.
Rel melambangkan etika, yaitu aturan dan prinsip yang menjaga arah agar tidak keluar jalur.
Lokomotif adalah integritas moral, kekuatan utama yang menggerakkan perjalanan seorang penceramah.
Bahan bakar adalah motivasi, yang memberikan energi agar terus berjalan dan tidak berhenti di tengah jalan.
Masinis adalah kesadaran (mindfulness), yang memastikan perjalanan tetap terarah, waspada, dan penuh kebijaksanaan.
Sementara itu, muatan yang dibawa adalah materi Dhamma, yang harus disampaikan dengan penuh tanggung jawab kepada umat.
Melalui analogi ini, beliau menegaskan bahwa seorang penceramah tidak hanya dituntut untuk pandai berbicara, tetapi juga harus memiliki fondasi etika yang kuat, integritas moral yang kokoh, serta motivasi yang benar dan berkelanjutan. Tanpa rel etika, lokomotif akan keluar jalur; tanpa bahan bakar motivasi, perjalanan akan terhenti; dan tanpa kesadaran sebagai masinis, arah perjalanan dapat menjadi tidak terkendali.
Dengan perpaduan kelima unsur tersebut, diharapkan setiap penceramah mampu menyampaikan Dhamma secara tepat, menyentuh hati, serta membawa manfaat nyata bagi kehidupan umat.
Melalui kegiatan ini, KCBI berharap dapat mencetak para Dhammaduta yang profesional, berkarakter, dan mampu berkontribusi dalam pengembangan umat Buddha di Indonesia.
KCBI